Friday, April 26, 2013
Me & Hijab
Over a year since I committed to wear hijab. After graduation, I decided to wear hijab, and Alhamdulillah this hijab still stick covering my head till now.
Keinginan untuk berhijab itu ga bisa dipaksain sama siapapun, kecuali diri kita sendiri.
Dan begitu pula ketika kita yakin dan mantap untuk berhijab, ga ada siapapun yang bisa ngelarang.
Saya sendiri ngakuin kalo saya bukan orang baik yang selalu berbuat baik.
Saya masih sering banget berbuat dosa. Sangat sering. Tetapi Allah masih berbaik hati nutupin semua aib saya.
Tetapi kalo hijab cuma diperuntukkan buat wanita-wanita yang sempurna akhlaknya, dan orang berhijab itu "pasti" harus baik, dan ga pantas orang berhijab itu berbuat salah dan dosa, sepertinya ga ada yang pantas pakai hijab kecuali malaikat.
Orang yang pake hijab bukan berarti sedikit dosa, juga belum tentu banyak dosa.
Tetapi seengganya dengan mereka commit untuk berhijab, mereka udah punya tekad untuk mematuhi ketentuan islam yang datangnya dari Allah, dan tentunya memperbaiki diri ke arah yang lebih baik.
Dulu, keinginan pake hijab karena lagi getol baca Al-Qur'an dan mempelajari artinya.
Perintah pake hijab ada di Al-Qur'an, langsung dari Allah, bukan sunnah. Sama seperti perintah shalat, puasa, dan hal-hal wajib lainnya yang ga bisa ditawar sebagai seorang muslim.
Membuka aurat setelah baligh itu dosa, dan bukan dosa kita sendiri aja. Ayah kita kebawa dosa, kalo yang udah bersuami, suaminya juga dosa. Kalo dosanya cuma sendiri ya ga masalah, lah ini bawa-bawa orang banyak.
Dari situ kepikiran, emang apa sih yang menghalangi untuk berhijab?
Kerja? Allah yang kasih rejeki. Jodoh? Sama juga. Bahkan kita lebih bisa memilah lelaki mana yang sungguh-sungguh dan mana yang ngga. Mana yang cuma liat fisik kita, mana yang liat personality kita.
Belom siap? Emang mau kapan siapnya? Umur kan kita ga tau. Yakin banget bisa hidup nunggu sampe siap berhijab. Kalo ga siap-siap gimana?
Hijab hati dulu? Gimana cara? Emang ada gitu islam nyuruh hijab hati? Kalo disuruh berbuat baik dan menjauhi penyakit hati mah baru ada. Dan itu GA ADA hubungannya sama hijab.
Waktu mau berhijab, mama sempet ga setuju, karena dipikir masih muda, belom kerja, ini itu dan lain sebagainya.
Tapi saya tetep ngotot, dan walau belum punya kerudung satupun, dan pertama kali berhijab pake kerudung mama, akhirnya tetep dilakonin. Akhirnya lama kelamaan mama luluh, dan malah ngebeliin hijab selusin aneka warna. (Haha)
Niat baik gimanapun juga pasti Allah kasih jalan asal kita ga menyerah, insya Allah.
Masalah mengingatkan orang lain tentang hijab, ga perlu nyindir-nyindir cepet-cepet hijab dan menggurui dengan hal-hal yang kita ketahui tentang hijab. Pernah denger dari seseorang, nasehat itu sama kaya ilmu. Ilmu itu katanya ibarat air, kalo orang ga haus jangan diguyur air. Tunggu sampe dia ngerasa haus dan minta minum, baru kita kasih segelas demi segelas.
Jadi tetep ga bisa memaksakan pemikiran kita sama orang lain. Karena segala sesuatu itu datengnya dari hati, jadi kita cuma bisa mengajak dan mengingatkan. Pada akhirnya keputusan ada di orang itu sendiri.
Alhamdulillah kakak yang paling deket udah pake hijab juga. Seneng rasanya kalo kebaikan itu menular ke orang-orang sekitar.
Hidayah itu memang hanya bisa Allah yang kasih. Dan hidayah itu mahal harganya, karena ga semua orang beruntung bisa dapetin itu. :)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment