Friday, April 26, 2013

10 Things I Interested In

1. Violin
I have passion in this instrument. Dari jaman dulu kala pengen banget bisa biola, tapi belum pernah ada kesempatan buat sengaja belajar. Denger suara biola tuh anggun, adem, bener2 dapet emosinya dipasangin sama genre musik apapun. Dan selalu suka sama lagu yang ada biolanya, selalu didengerin baik2 pas bagian biolanya. Dan makanya suka banget musik intrumental tanpa vocal yang pake biola. Biasanya lagu2 gini lagu sedih mengiris hati. Melankolis sekali. (Hahaha)


2. Ballet
Anggun. Iringan musik orkestra. Loveeee it. Walaupun agak telat kalau mau belajar, karena udah keterlaluan kakunya ini badan jadi ya cuma jadi penggemar aja. Sayangnya ballet pro yang dewasa mungkin agak kurang di indonesia, kebanyakan pentas anak2 yang belajar ballet. Tapi tetep suka sama ballet.


3. Zumba
I love dance, actually. Walaupun agak malu mengakui. Karena ga terlalu suka jadi pusat perhatian. Yg perform dengan enerjik gitu2 agak kurang. Tapi saya punya ketertarikan sama menari. Pengen punya studio pribadi seruangan dengan kaca sekelilingnya, supaya bisa menari sesuka hati anytime. Sempet kemarin ikut kelas aerobik zumba, seru sih, tapi agak ribet karena hijab, soalnya kelas ruangannya transparan,orang bisa liat kita exercise, perempuan laki dicampur (yaiyalah) jadi agak ga bebas geraknya, agak risih gitu. Jadi last choice, saya prefer zumba di rumah aja.
Oya zumba itu salah satu dance fitness yang lahir tahun 1990-an dan menggabungkan dance dan aerobic. Koreografi-nya ada hip-hop, soca, salsa, samba, merengue, mambo, martial-arts, and a little Bollywood moves. Lagunya juga bukan lagu dangdut remix yang biasa ibu-ibu aerobic gitu (LOL). Lagunya seru-seru, makanya saya tertarik.


4. Yoga
Kenapa tertarik yoga? Karena jarang olahraga, dan butuh meditasinya. Belakangan gampang emosi dan ngerasa badan kurang fit, gampang cape, jadi milih yoga. Gerakannya juga bagus karena melatih keseimbangan pikiran dan badan. Latihan mengendalikan napas, dan gerakan2nya cukup sulit, karena semakin kita tenang, semakin kita bisa ngikutin gerakannya.


5. Books
Definitely. Don't ask. (Hehe) I even wrote about it at my bio. Novel, almost all genre. Science. Biography. Every topic I interested in.
Yang ceritanya seru. Imajinasi. Yang bisa kita dapet pelajaran dari buku itu. Pokoknya sukaaa sama yang namanya buku.


6. Electronics (?)
Aneh memang, tapi memang betah banget di carrefour atau hypermart mana pun kalo udah di bagian electronic. Betah nya pun asli betah. Bisa sejam lebih keliling-keliling sendirian tanpa ngerasa bosen. (Hehehe)


7. Fashion
Suka sama fashion, tapi ga sampe level jadi designer sih. Cuma suka aja. Baju2 lucu, bagus, colorful. Mix and match them. Tapi style sih kurang suka yang terlalu girlie. And I love black colour to wear.


8. Music
Bisa nyanyi sih dikit. Di kamar mandi. (Hahaha)
Bisa main gitar juga sih dikit. Udah lama ga maen jadi kaku lagi. Punya gitar dan udah bulukan di gudang.
Bisa maen piano sih dikit. Otodidak. Iseng. Sekarang mungkin udah lupa caranya. Pernah punya juga, tapi udah diwarisin ke keponakan karena daripada jadi ganjelan pintu di rumah.
Sekarang sih, cuma menikmati musik lewat telinga aja. Tapi kalo misal dikasi kesempatan ngulang hidup, I wanna be a pro musician. Yang ahli di salah satu instrumen, mungkin biola. (Hehe)


9. Game
I could spend hours playing computer game like The Sims. Bener-bener berjam-jam, bahkan 5 jam nonstop, cuma diselang solat, makan, toilet. Waktu jaman kuliah bahkan seharian. Crazy. Dan selalu menyesal setelah melakukannya. Kalo game adventure yang ada storynya, ga akan bisa ditinggal kalo belum tamat. Penasaran abis.
Sekarang? Masih. Tapi ya agak dibatasi. Malu sama umur. (Hehe)


10. Race (???????)
Hal kesepuluh ini ditulis karena udah gatau lagi apa yang mau saya tulis.
Saya selalu ngebut. I'm not bragging, but it's uncontrollable. Kadang sampe dimarahin karena bawa mobil dan motor terlalu ngebut. Saya tau ini jelek, dan saya sedang berusaha mengurangi.
Tapi kalo ini profesi, misalnya kaya si pembalap ganteng nan tampan, Rio Haryanto. Satu2nya my idol on earth. I mean the one and only idol I ever have since I was a kid. Pastinya saya akan sangat menikmati profesi ini. (Hahaha). Sorry kalo post ini super geje. (Cry)


Me & Hijab


Over a year since I committed to wear hijab. After graduation, I decided to wear hijab, and Alhamdulillah this hijab still stick covering my head till now.
Keinginan untuk berhijab itu ga bisa dipaksain sama siapapun, kecuali diri kita sendiri.
Dan begitu pula ketika kita yakin dan mantap untuk berhijab, ga ada siapapun yang bisa ngelarang.
Saya sendiri ngakuin kalo saya bukan orang baik yang selalu berbuat baik.
Saya masih sering banget berbuat dosa. Sangat sering. Tetapi Allah masih berbaik hati nutupin semua aib saya.
Tetapi kalo hijab cuma diperuntukkan buat wanita-wanita yang sempurna akhlaknya, dan orang berhijab itu "pasti" harus baik, dan ga pantas orang berhijab itu berbuat salah dan dosa, sepertinya ga ada yang pantas pakai hijab kecuali malaikat.
Orang yang pake hijab bukan berarti sedikit dosa, juga belum tentu banyak dosa.
Tetapi seengganya dengan mereka commit untuk berhijab, mereka udah punya tekad untuk mematuhi ketentuan islam yang datangnya dari Allah, dan tentunya memperbaiki diri ke arah yang lebih baik.
Dulu, keinginan pake hijab karena lagi getol baca Al-Qur'an dan mempelajari artinya.
Perintah pake hijab ada di Al-Qur'an, langsung dari Allah, bukan sunnah. Sama seperti perintah shalat, puasa, dan hal-hal wajib lainnya yang ga bisa ditawar sebagai seorang muslim.
Membuka aurat setelah baligh itu dosa, dan bukan dosa kita sendiri aja. Ayah kita kebawa dosa, kalo yang udah bersuami, suaminya juga dosa. Kalo dosanya cuma sendiri ya ga masalah, lah ini bawa-bawa orang banyak.
Dari situ kepikiran, emang apa sih yang menghalangi untuk berhijab?
Kerja? Allah yang kasih rejeki. Jodoh? Sama juga. Bahkan kita lebih bisa memilah lelaki mana yang sungguh-sungguh dan mana yang ngga. Mana yang cuma liat fisik kita, mana yang liat personality kita.
Belom siap? Emang mau kapan siapnya? Umur kan kita ga tau. Yakin banget bisa hidup nunggu sampe siap berhijab. Kalo ga siap-siap gimana?
Hijab hati dulu? Gimana cara? Emang ada gitu islam nyuruh hijab hati? Kalo disuruh berbuat baik dan menjauhi penyakit hati mah baru ada. Dan itu GA ADA hubungannya sama hijab.
Waktu mau berhijab, mama sempet ga setuju, karena dipikir masih muda, belom kerja, ini itu dan lain sebagainya.
Tapi saya tetep ngotot, dan walau belum punya kerudung satupun, dan pertama kali berhijab pake kerudung mama, akhirnya tetep dilakonin. Akhirnya lama kelamaan mama luluh, dan malah ngebeliin hijab selusin aneka warna. (Haha)
Niat baik gimanapun juga pasti Allah kasih jalan asal kita ga menyerah, insya Allah.
Masalah mengingatkan orang lain tentang hijab, ga perlu nyindir-nyindir cepet-cepet hijab dan menggurui dengan hal-hal yang kita ketahui tentang hijab. Pernah denger dari seseorang, nasehat itu sama kaya ilmu. Ilmu itu katanya ibarat air, kalo orang ga haus jangan diguyur air. Tunggu sampe dia ngerasa haus dan minta minum, baru kita kasih segelas demi segelas.
Jadi tetep ga bisa memaksakan pemikiran kita sama orang lain. Karena segala sesuatu itu datengnya dari hati, jadi kita cuma bisa mengajak dan mengingatkan. Pada akhirnya keputusan ada di orang itu sendiri.
Alhamdulillah kakak yang paling deket udah pake hijab juga. Seneng rasanya kalo kebaikan itu menular ke orang-orang sekitar.
Hidayah itu memang hanya bisa Allah yang kasih. Dan hidayah itu mahal harganya, karena ga semua orang beruntung bisa dapetin itu. :)

Wednesday, April 10, 2013

Purpose

Setelah sekian lama interview, kemarin interview lagi untuk posisi Management Trainee. Kemudian ditanya "Tujuan hidup kamu apa? 3 tahun ke depan kamu mau jadi apa?" Langsung berfikir keras.
Hampir setahun bekerja di tempat sekarang bikin banyak sekali mindset yang berubah. Hampir setahun lalu, baru lulus kuliah, pikiran cuma pengen kerja, whatever pokoknya kerja, gaji besar, lingkungannya nyaman, pokoknya pengen kerja yang enak, cepet sukses, cepet kaya. That's all. Perfeksionis. But, life isn't always as easy as it seems.
Bekerja disini bikin belajar banyak hal. Kebetulan tempat kerja ada di bagian yang isinya orang-orang "berumur" semua. Hampir ga ada yang seumuran. Tapi disini belajar soal karakter orang, permasalahan di kantor, mempelajari hidup tiap orang, masalah mereka, cara mereka memandang hidup, dan tentunya banyak dikasih wejangan-wejangan.
Dan setelah beberapa bulan disini sampai pada 1 mindset yang akhirnya mendominasi otak. Enterpreneur. Yes, i wanna be an Enterpreneur. Dan ini yang bikin sulit banget jawab pertanyaan interviewer tadi, apalagi untuk posisi Management Trainee.
Why Enterpreneur? Menurut saya, mostly para lulusan S1/S2 itu harusnya membuka lapangan kerja baru untuk lulusan SMP/SMA. Ga harus semua sarjana, tapi sebagian besar. Apalagi untuk negara Indonesia yang pendidikannya masih dibawah rata-rata. Tiap tahun universitas negeri dan swasta meluluskan sarjana yang banyak, tapi lapangan kerja cuma nambah sedikit. Ga imbang. Kalo bukan kita yang menciptakan lapangan kerja, siapa lagi? Selain itu, wirausaha menurut saya juga "mengayakan" orang lain. Ga cuma bikin kaya diri sendiri.
Dengan membantu orang lain dapet pekerjaan secara ga langsung kita membantu hidup mereka. Bukan dengan sedekah yang bikin mereka tergantung sama orang lain, tapi membantu mereka untuk berdiri di atas kaki mereka sendiri.
Tapi hati masih struggle. 1 sisi pengen nyoba kerja di tempat lain, 1 sisi pengen langsung ngerintis usaha. Masih belum tau mana yang bisa saya jalani dengan "passion". Karena saya percaya sukses itu ngikutin selama kita enjoy dengan apa yang kita lakuin. Whatever it is.
Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa dapetin keputusan. Yang baik untuk hidup saya ke depannya, keluarga saya, orang-orang sekitar, dan orang banyak. Amin :)